Pada tahun 1913, Pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan uang dari pribumi untuk memperingati dan merayakan hari kemerdekaan Belanda dari Perancis. Kebijakan tersebut membuat aktivis nasionalis meradang dan menciptakan kritis terhadap kebijakan itu. Salah satunya dengan tulisan. Tokoh seperti R.M Soewardi Soerjoningrat memberikan kritikan tajam, keras, dan pedas terhadap kebijkan itu dengan sebuah tulisan dengan gaya sindiran terhadap pemerintah kolonial Belanda. Akhirnya, karena dianggap terlalu tajam menghujat Gubermen (menghilangkan kewibawaan gubermen), atas persetujuan Gubernur Jendrl Idenburg lewat tulisannya, dia diasingkan kepulau Bangka.
Dalam daripada itu, tulisan yang ditulis oleh R.M Soewardi itu menurut pandangan subjektif saya adalah sangat penting untuk dibaca oleh kaum terpelajar Indonesia untuk membangkitkan kembali akan hasrat perjuangan terhadap ketidak adilan dan kesewnang-wenangan. Terlebih lewat sebuah tulisan dengan gaya yang komunikatif dan tajam.
Maka dengan semangat dari Sowardi pada 1913 yang diwariskannya dalam tulisannya itu dan semangat kekinian untuk bisa berbagi sebuah ide dan gagasan moralitas keadilan, dengan bangga saya mencoba berbagi sebuah tulisan yang membuat pemerintah kolonial Belanda 102 Tahun silam kebakaran jenggot.
Selamat Membaca.
Als ik eens Nederlander was (Andai aku seorang Belanda)
Oleh : Raden Mas Soewardi Soerjaningrat
Dalam surat
–surat kabar, kini secara ramai-ramai dianjur-anjurkan , supaya diadakan
perayaan di Hindia Belanda ini, perayaan kemerdekaan Nederland seratus
tahun, rupa-rupanya segenap penduduk negeri ini diharuskan
mengetahuinya, bahwa tepat dalam bulan November y.a.d ini Nederland
menjadi kerajaan kembali dan rakyatnya menjadi bangsa lain merdeka dan
berdaulat, sekalipun dalam barisan Negara-negara yang merdeka berdiri
paling belakang.
Di pandang dari sudut pengertian yang layak, memang
dapatlah orang membenarkan hajat merayakan peristiiwa nasional yang
tersebut itu,bukankah seharusnya kita menghargai kecintaan dan
penghormatan orang-orang Belanda terhadap negerinya sendiri, dengan
phlawan-pahlawannya?! Peringatan yang dimaksud adalah wujud rasa
kebangsaan, bahwa satu abad yang lalu Nederland berhasil melemparkan
penjajahan asing dan menjadi suatu bangsa sendiri..
Saya dapat
menempatkan diriku di dalam rasa-batinnya para patriot Belanda sekarang,
yang berkesempatan mengadakan perayaan yang mulia itu, karena saya
sendriri adalah orang patriot , dan seperti orang –orang Belanda yang
berhaluan nasional dan mencintai tanah tumpah darahnya itu, akupu
mencintai juga tanah airku sendiri , lebih dari pada yang dapat saya
lahirkan dengan kata-kata.
Alangkah gembiranya, alangakah
bahagianaya, orang dapat memeperingati peristiwa yang maha penting itu!
Alangakah senagnya rasaku, apabila aku untuk sebentar saja dalam
angan-anganku jadi seorang Nedrelander! Bukan nederelander menurut
Staatsblad, namun Nederlander benar-benar dalam arti kata putra asli
dari groot Nederland yang berdarah murni.
Dalam angan- angan yang
demikian aku akan bersorak dengan rasa yang serba riang. Kalau dalam
bulan November nanti datang bulan yang kunanti-nantikan itu, hari
perayaan kemerdekaan. Aku akan berteriak-teriak gembira sambil melihat
berkibar-kibarnya sang tri warna, bendera Nederland dengan pita lampiran
berwarna oranye itu. Tak jemu-jemu akan menyanyikan lagu –lagu
kebangsaanku wihelmus dan wien Nederlands blud pada tiap-tiap saat music
akan melagukannya.
Aku mungkin akan besar kepala karena
perayaan-perayaan kegembiraan itu; aku akan berterimakasih terhadap
tuhan di gereja-gereja Kristen akan kebaikan-Nya. Aku berdo’a kepada
tuhan semoga kekuasaan Nederland, juga ditanah-tanah jajahannya, tetap
ada dan tetap mempertahankan kebesaran Nederland dengan kekuataan
raksasa yang ada di negeri-negeri jajahan itu kepada semua orang Belanda
di insulinde ini aku akan meminta bantuan uang, tidak saja untuk
membiyai perayaan tersebut, namun pula untuk membantu “rencaana tentara
laut” –nya Collijn, yang amat giat berusaha memperthankan kemerdekaan
Nederland itu; aku akan.....ya, entah aku seakan-akan merasa mungkin
berbuat apa saja, kiraku.
Tetapi, tidak betullah itu! Andai aku
seorang Nederlander, tidaklah aku akan sampai hati untuk begitu, benar
aku akan mengharap-harap supaya perayaan-perayaan kemerdekaan tadi
dilakuakn seluas-luasnya, namuan tidakkah aku menyetujui, apabila rakyat
di negri ini akan ikut serta dalam perayaan-[erayaan itu aku akan
memagari tempat-tempat perayaan, agar tidak seorang bumi putra dapat
melihat kegembiraan kita yang meluap-luap dalam kita memperingati hari
kemerdekaan kta itu.
Menurut rasaku adalah sedikit banyak tidak
sopan, memalukan dan kurang beradat, kalau kita (aku masih seorang
Nederlander dalam angan-anganku) mengajak orang-orang bumiputra turut
bergembira merayakan Negara dan bangsaku . pertama kali pastilah kta
akan menyinggung rasa kehormatannya, karena kita dinegeri tumpahdarahnya
yang kita jajah, memeringati kemerdekaan kita. Kita bergembira ria,
karena seratus tahun yang lalu kita dimerdekakan oleh penguasa asing;
dan ini akan berlangsung dan dengan dilihat oleh mereka yang kini masih
kita jajah itu, dan tentunya mengharap-harapkan akan perayaan
kemerdekaan, yang seperti yang kini akan kita langsungkan itu?!
Atau
kita mengirakah, bahwa para inlander tadi sudah mati sama sekali
perasaan batinnya , segabagi akibat politik penjajahan kita. Yang
menekan dan mematikan hati mannusia itu? Jika begitu maka kita pasti
akan menyaksikan kegagalan politik yang sedemikian itu, sebab tiap-tiap
rakyat, bahkan belum beradab pun sebetulnya menyangkal akan kebenaran
setiap bentuk penjajahan dimuka bumi ini.
Andai aku seorang
Nederlander, tidaklah aku akan merayakan pesta kemerdekaan bangsaku
dinegri yang rakyatnya tidak kita beri kemerdekaan. Sesuai dengan laku
pikiranku itu maka sesungguhnya tidak saja tidak adil, namun tidak patut
pula rakyat dinegri ini kita mintai bantuan uang guna membayai
pesta-pesta kita itu. Kita sudah menghina mereka, berhubung dengan sifat
peringatan kemerdekaan Nederlan, disampingitu kita mengosongkan uang
dikantong uangnya. Sungguh-sungguh penghinaan moral dan material.
Mengharap-harpkan keuntungan apakah kita dengan mengdakan pesta -pesta
tadi dinegri kita ini? Kalau untuk merupakan pernyataan kegembiraan
nasional, maka sungguh bodohlah kita mengadakan perayaan itu di negri
yang terjajah.
Orang melukai perasaan rakyat disisni. Ataukah orang
memang bermaksud mewujudkan propaganda politik secara besar-besaran? Di
waktu ini , dimana rakyat sedang berusaha menjadi bangsa, dan kini masih
waktu dalam permulaan kesadaran, adalah salah belaka, apabila kita
memberi contoh atau petunjuk bagaimana caranya nanti mereka akan
merayakan kemerdekaannya. Orang mengobar-ngobarkan hawa nafsu serta
keinginan rakyat yang tidak disadari, terhadap cita-cita kemerdekaan dan
kemungkinana dataangnya. Tidak dengan sengaja seolah-olah kita
berteriak-teriak:" Lihatlah hai orang-orang , bagaimana cara kita
memeperingati kemerdekaan kita ; cintailah kemerdekaan , karena
sesungguhnya bahagialah rakyat yang merdeka, terlepas dari penjajahn!"
Kalau
nanti bulan novemeber tahun ini sudah silam , maka terbuktilah kaum
kolonis telah melalkukan poitik yang berbahaya , segala akibat adalah
tanggung jawab mereka . Aku tidak akan suka ikut bertanggungjawab ,
sekalipun seorang Nederlander. Andai aku seorang Nederlander, pada saat
ini juga aku akaan memprotes hajat mengadakan peringtan itu, aku akan
menulis disurat-surat kabar , bahwa hajat itu salah: aku akan
mengingatkan kawn-kawanku se-kolonie , bahwa berbahayalah diwaktu ini
mengadakan perayaan-perayaan kemerdekaan itu; aku akan menasehatkan
sekalian orang Belanda supaya janganlah menghina rakyat Hindia Belanda ,
yang kini mulai menunjukkan keberanian dan mungkin akan berani
bertindak pula; sungguh aku akan protes dengan segala kekatan yang ada
padaku.
Tapi.... aku bukan seorang Nederlander; aku hanya seorang
putra dari negri ini , seorang inbording dinegri jajahan Nederland ini ;
karena iu aku tidak akan protes . Sebab kalau aku protes pastilah aku
akan dimarahi; aku akan menghina rakyat nederland ini; dan aku akan
menjauhkan diri dari mereka yang kini berkuasa dinegri ini . Dan itu
bukanlah yang kuhendaki.
Seandainya aku seorang Nederlander, pun aku
juga tidak akan suka menghina rakyat dinegri ini bukan?! Juga aku akan
akan didakwa bertindak kurang ajar terhadap sri baginda maharaja ; dan
ini akan dianggap sebagai kesalahan yang sangat besar bagi seorang hamba
; kesalahan karena tidak taat kepada sri baginda. Karena itu aku tidak
akan protes . Sebaliknya aku akan ikut serta dalam peayaan tadi..
Kalau
nanti ada pengumpulan uang aku akan memberi derma , meskipun untuk itu
aku akan terpaksa mengurangi biiaya hidupku dengan separohnya. Aku wajib
sebagai inlander dinegri jajahan nederland ini , untuk ikut meramaikan
perayaan hari kemerdekaan nederland, yakni: negri dari tuan-tuan kita ,
aku akan mengajak segenap bangsaku yang juga menjadi hamba dari kerajaan
nederland, untuk ikut meraaakan hari kemerdekan tadi, karena sekalipun
perayaan itu semata-mata kepentingan Belanda, namun kita akan dapat
kesempatan untuk merayakan perasaan kesetiaan kita. Jadi,, kita akan
mmengdakan "demonstrasi kesetiaan". Alangkah besarnya rasa kebahagiaan
kita.
Syukur alhamdulillah , aku bukan seorang Nederlander! Cukup
sekian dan marilah sekarang kitameninggalkan sikap menyindir - nyindir
itu. Seperti sudah saya sebut pada permulaan karangan ini , hajat
merayakan " seratus tahun kemerdekaan nederland" itu menunjukkan
kesetiaan rakyat Belanda kepada tanah airnya. Terhadap orang-orang
Belanda itu saya tidak akan iri hati berhubunngdengan rasa kebahagiaan
yang akan mereka rasai dengan peringatan nasional mereka itu.
Tapi,,
yang dalam pada itu sangat melukai perasaan saya ialah bahwa untuk
sekian kalinya rakyat disuruh ikut membiayai usaha, yang sama sekali
bukan kepentingannya. Akan memberi keuntungan apakah perayaan yang kita
harus ikuti membiayai itu? Bagi mereka sedikitpun tak ada . Sebaiknya
bagi kita ada kuntungannaya , petama; niat perayaan kemerdekaan tadi
mengingatkan kepada rakyat , bahwa" nederland yidak akan memberikan
kemerdekaan kepada kita", Artinya selama Gognor jendral Idenbirg
berkuasa sebagai wali negara.
Kedua : hajat perayaan itu meberikan
pelajaran kepada kita , bahwa tiap-tia orang wajib memperingati hari
perayaan kemerdekaan rakyatnya dengan sehikmat-hikmatnya.
Berhubung
dengan itu saya sangat menyetujui buah pikiran yang baru-baru ini dimuat
dalam harian kaoem moeda dan De Express supaya di Bandung., dimana
hajat perayaan kemedekaan timbul dan kemudian menjadi tempat kedudukan
hoofd-comitee-nya, nantinya kita mendirikan panitia nasional dari
orang-orang bangsa kita terkemuka, dengan maksud pada hari perayan
kemerdekaan Nederland itu, mengirim telegram pernyataan selamat kepada
ratu nederland, dalam mana dengan kuta akan didorongkan:
a. Pembatalan
artikel 111 R.R. Dan
b. Segera dibentuknya parlemen.
Hasil dari pada
permintaan itu , lebih-lebih yang mengenai bagian yang terakhir ,
disini tidak akan saya bicarakan; yang penting ialah artinya , yang
pasti akan sangat berharga. Permintaan keras yang akan dimmaksudkan itu
sendirinya mengandung protes , bahwa hingga kini rakyat sama sekali
tidak diberi hak untuk membicarakan soal-soal politik. Dengan perkataan
lain , bahwa kita sama sekali tidak diberi hak untuk bercita-cita
kemerdekaan . Rakyat yang cinta kemerdekaan, seperti rakyat nederland
yang akan merayakan kemerdekaanny itu, harus membenarkan permintaan
panitia kita ini.
Tentang anjuran yang bertali dengan pembentukan
parlemen , anjuran itu dengan nyata mewujudkan keinginan rakyat untuk
diberi hak suara, bagaimanapun nanti caranya . Ini perlu sekali . Dimana
sifat kebangunan rakyat dengan jelas membuktikan cepatnya perkembangan
kearh kemerdekaan, maka mungkin sekali, rakyat yang kini masih dijajah
itu, nanti akan melampaui pembatasan-pembatasan yang diadakan oleh pihak
yang berkuasa.
Bagaimana nanti? Bagaimana kalau 40 juta orang -orang
yang telah saadar nanti minta perhitungan kepada sejumlah 100 orang
yang menduduki tweede-kamer yang disebut perwakilan rkyat itu? Apakah
mereka akan sekonyong-konyong melakuaka kapitulasi nanti, bila saat
memunncak menjadi krisis?
Sebenarnya ada aneh sekali , panitia kita
tidak menedesakan akan adanya parlemen , oleh pemerintah hindia Belanda
hanya secara ragu-ragu kita bolehkan ikut memerhatkan soal diwujudkannya
soal sebuah badan perwkilan, yang sifatnya kolonial , yang didalamny
mungkin-mungkin sekali hanya diduduki orang-orang yang diangkat oleh
pemerintah dan nantinya akan dianggap wakil-wakil kita didalam dewan
yang akan disebut Koloniale raad itu; sama hal dan keadaannya dengan
gameenteraden yang ada. Dan sekarang panitia tersebut mengjukan usul
yang hebat, yaitu tak kurang dan tak lebih dari pada dibentuknya
parlemen.
Rupa- rupanya panitia kita hanya mengutamaakan sifat-sifat
pokoknya , yaitu protes saja, belum mementingkan bagaimana nanti akan
hasilnya, bukankah menarik perhatian, bahwa justru pada hari kemedekaan
bangsa Belanda panitia memajukan permintaan kepada raja putri Belanda,
untuk mengakhiri penjajahan nederland terhadap rakyat yang 40 juta
kebanyakan itu,\. Itulah pengaruh yang kini sudah timbul, pengaruh dari
pada niat atau hajat mengadakan perayaan kemerdekaan, yang sedang
dipersiapkan itu.
Sungguh, seandainya saya seorang Nederlander,
tidaklah saya akan merayakan peringatan di negri yang masih terjajah.
Lebih dahulu berilh kemerdekaan kepadaa rakyat yang masihkita kuasai,
barulah boleh orang memperingati kemerdekaan sendiri.